Dating With The Dark

Remake Novel dengan Judul yang sama

Karya Shanty Agatha

Park Jimin x min Yoongi

And other cast

Warning :

OOC, Typo(S), Gs, Mature Content

Rate M

Don't like don't read!

.

.

.

.

.

Chapter 12

"Anda harus turun nona Yoongi. Tuan Jimin ingin menemui anda untuk makan malam di bawah." Yochun memasuki kamar dan setengah membungkukkan tubuhnya dengan formal kepada Yoongi. Yoongi melemparkan tatapan gusar kepada lelaki itu, jadi karena itulah tiba-tiba saja tadi pelayan-pelayan datang dan membawakannya gaun cantik berwarna biru muda yang lumayan formal ini. Yoongi terpaksa memakainya karena tidak ada gaun lain yang disediakan untuknya di ruangan ini.

"Aku tidak mau turun." Gumam Yoongi keras kepala, tidak mau begitu saja membiarkan lelaki itu mendapatkan keinginannya. Yochun menatap Yoongi penuh spekulasi lalu mulai mengeluarkan pancingannya, "Anda benar-benar tidak ingin keluar? Mungkin ini satu-satunya kesempatan anda untuk keluar dari kamar ini, apakah anda tidak merasa bosan? Dan saya juga cemas, kalau anda menolak ajakan makan malam tuan Jimin, beliau akan memutuskan untuk mengurung anda terus-terusan di kamar ini dan anda tidak punya kesempatan untuk keluar lagi."

Lelaki tua ini ada benarnya juga. Yoongi tercenung, dia bosan berada di dalam kamar terus-terusan, ketika menyekapnya, Jimin benar-benar kejam dan membiarkan Yoongi benar-benar selalu berada di dalam kamar. Dan mungkin saja dengan keluar dari kamar ini, Yoongi bisa mempelajari dimana sebenarnya dia berada. Dia mendengar suara ombak, mereka berada di tepi laut. Hanya itu informasi yang Yoongi punya. Makan malam dengan Jimin mungkin tidak akan merugikannya, hanya akan sedikit menginjak harga dirinya. Yoongi menghela napas panjang dan menganggukkan kepalanya.

"Baiklah, aku akan pergi makan malam sesuai kemauan Tuanmu."

.

.

Jimin tampak dingin dan formal duduk di kepala meja dan membisu, lelaki itu memakai pakaian hitam-hitam, tampak seperti pangeran kegelapan yang sedang muram.

"Duduk dan makanlah." Jimin melambaikan jemarinya dan pelayan yang siap sedia di situ langsung menarikkan kursi untuk Yoongi, Yoongi pun duduk dan beberapa pelayan dari dapur langsung datang membawa nampan, mangkuk mungil di depannya dibalikkan dan pelayan itu menuangkan sup berwarna jingga ke sana.

"Itu sup lobster, kuharap kau menyukainya." Jimin sedikit tersenyum tipis, lalu menyantap sup itu dalam keheningan. Mau tak mau Yoongi mengambil sendok dan mencicipi sup itu, menyadari bahwa sup itu sangat enak dan perutnya berbunyi, dia rupanya sangat lapar.

Dengan malu dia melirik ke arah Jimin, bertanya-tanya apakah lelaki itu mendengar suara perutnya tadi. Tetapi Jimin memasang wajah datar dan menyantap supnya seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Yoongi menghela napas panjang dan melanjutkan menikmati supnya, beberapa kali dia mencuri pandang ke arah Jimin dan pipinya memerah. Lelaki ini sudah menidurinya, astaga... Yoongi mengernyit dan tidak bisa menahan diri untuk mengutuki dirinya yang lemah karena begitu mudahnya larut dalam rayuan Jimin.

Tetapi Lelaki itu adalah lelaki yang sangat ahli, dan Yoongi hanyalah seorang perempuan yang tidak berpengalaman, Yoongi memutuskan dengan penuh tekad bahwa dia tidak akan jatuh lagi dalam pesona dan rayuan Jimin. Cukup sekali lelaki itu memperdayanya, mulai sekarang Yoongi akan menguatkan diri. Jimin hanya bermimpi kalau mengira dia bisa memiliki Yoongi lagi sesuai kemauannya.

"Ada yang ingin kukatakan kepadamu." Tiba-tiba Jimin bergumam, menatap Yoongi dalam. Mereka sudah menyelesaikan menyantap sup itu, dan para pelayan mengambil mangkuk-mangkuk kotor mereka. Sekarang adalah jeda sebelum hidangan utama datang.

"Yoongi, mungkin kau merasa bingung selama ini, tetapi aku memang menyimpan rahasia tentangmu, rahasia yang kupikir akan kusimpan dan menunggu sampai kau mengingatnya sendiri. Tetapi semalam kau membiarkanku bercinta dengamu..." Jimin menatap Yoongi dengan begitu intens, membuat pipi Yoongi memerah, "Dan kupikir, aku tidak bisa menunggu lebih lama untuk mengungkapkan..."

"Kau bisa mengungkapkan apapun itu di penjara."

Sebuah suara lantang tiba-tiba terdengar dari arah pintu, membuat Yoongi dan Jimin menoleh bersamaan, Yoongi benar-benar terperanjat. Itu Namjoon. Lelaki itu berdiri, mengenakan pakaian hitam-hitam dan menodongkan pistol ke arah Jimin.

Namjoon! Apakah Namjoon datang untuk menyelamatkannya?

"Namjoon!" Yoongi terkesiap seketika berdiri dari tempatnya duduk, menutup mulutnya karena kaget. Bagaimana Namjon bisa sampai ke sini? Apakah memang benar Namjoon sedang mengusahakan segala cara untuk menolongnya? Dan tubuh lelaki itu basah kuyup, air tampak menetes-netes dari tubuhnya. Apa yang dilakukan Namjoon? Apakah lelaki itu habis berenang di laut?

Jimin sendiri dalam sekerjap mata tampak terkejut melihat Namjoon tiba-tiba muncul di sana, tetapi kemudian topeng ekspresi datarnya muncul dan menutupi semuanya, lelaki itu bahkan tersenyum sambil menatap Namjoon.

"Well...ternyata aku memang meremehkanmu, kau tidak sebodoh yang aku kira."

Namjoon menatap Jimin dengan marah dan waspada. Lelaki ini adalah Sang Pembunuh, tentu saja, penampilannya sangat gelap dan ada aura pekat yang melingkupinya, Namjoon cuma tidak menyangka bahwa Sang Pembunuh setampan ini. Dia pada mulanya berpikir bahwa Sang Pembunuh berwajah sangar, penuh tato atau apapun itu yang menunjukkan bahwa dia lelaki kasar dan jahat. Tetapi yang berdiri di depannya adalah sosok lelaki elegan dengan ketampanan bangsawan yang khas dan pakaian rapi dan mahal. Namjoon melirik ke arah Yoongi, tiba-tiba merasa ragu. Kalau Sang Pembunuh memang menginginkan Yoongi, akankah Yoongi menerimanya secara sukarela? Benak Namjoon dipenuhi perasaan cemburu.

Tiba-tiba saja Jimin berdiri dan melangkah mendekat, membuat Namjoon semakin waspada dan mengacungkan pistolnya, "Jangan mendekat! Atau aku akan menembakmu."

"Atas dasar apa kau menembakku? Kau akan dituntut karena menembak warga negara asing yang tidak bersalah." Namjoon mengernyitkan keningnya, "kau adalah Sang Pembunuh, itu sudah cukup menjadi alasan untukku."

"Oh ya?" Jimin tersenyum mencemooh, "Apakah kau punya buktinya?"

Namjoon terpekur. Lelaki ini sangat licin. Pasti dia masuk ke negara ini sebagai pengusaha. Dan ya. Memang Namjoon sama sekali tidak punya bukti bahwa lelaki di depannya ini adalah Sang Pembunuh, dia menelan ludahnya, dan menatap Andrea sekilas lalu melemparkan tatapan menantang kepada Jimin, "Kau menculik Yoongi dengan paksa."

"Aku tidak memaksanya. Yoongi milikku, dan aku berhak mengambil apa yang menjadi milikku, kau tentu sudah tahu itu." Tatapan mata Jimin tajam dan penuh arti, membuat napas Namjoon tersengal karena emosi, "Lagipula, semalam kami sudah saling memiliki, malam yang sangat indah dan memuaskan, benar begitu kan Yoongi?" Jimin melirik penuh arti ke arah Yoongi, sengaja membuat suaranya sensual hingga membuat Yoongi benar-benar merona.

Semula Namjoon tidak percaya akan kata-kata Jimin yang sepertinya sengaja digunakan untuk memprovokasinya, tetapi kemudian lelaki itu melihat ekspresi Yoongi yang merah padam dan tidak mampu membantah. Darah Namjoon bergolak, dia marah luar biasa, kurang ajar! Lelaki itu telah menyentuh Yoongi- nya!

"Akan kubunuh kau!" Namjoon menarik pelatuknya dan sedetik kemudian dengan kecepatan yang luar biasa, Jimin tiba-tiba sudah meloncat dan menerjang Namjoon. Lalu Jimin berhasil merenggut pistol itu dari tangan Namjoon sebelum lelaki itu sempat menembakkannya, dan melemparkannya jauh di luar jangkauan. Dua lelaki itu bergulat dengan kerasnya. Yang satu menghajar yang lain bergantian. Sementara Yoongi hanya berdiri kaku, shock dan tidak bisa bergerak melihat perkelahian yang brutal dan panas itu.

Tetapi rupanya, keahlian bela diri Jimin dengan tangan kosong memang lebih unggul. Dia mencekal lengan Namjoon dari belakang, wajah Namjoon sudah lebam-lebam dan bibirnya berdarah, sementara rambut Jimin yang biasanya rapi, berantakan dengan sedikit darah di ujung bibirnya. Yoongi menatap ke arah dua laki-laki itu dan membelalakkan mata.

Tangan Jimin dengan sangat ahli, memposisikan gerakan berbahaya, mencengkeram leher Namjoon, tatapan matanya begitu kejam hingga matanya nyaris hitam. Lelaki itu memegang leher Namjoon yang tak berdaya dengan ahli, dia bisa mematahkan leher Namjoon dalam sekejap dan mencabut nyawanya, sedikit saja gerakan dari Namjoon, maka nyawanya akan melayang.

"Berani-beraninya kau kemari dan mencoba mengambil perempuanku!" Jimin mendesis marah, "Ucapkan doa terakhirmu karena aku akan membunuhmu." Namjoon memejamkan matanya, tahu bahwa kematian sudah begitu dekat dengannya. Tetapi kemudian terdengar suara tembakan yang begitu kencang. Dan kemudian Namjoon terlepas dari cengkeraman Jimin.

Namjoon membuka matanya, bingung, dan kemudian membelalakkan matanya kaget. Yoongi sedang memegang pistolnya yang tadi terlempar, perempuan itu terengah-engah, tatapan matanya ketakutan di cekam teror, dan ketika Namjoon menoleh ke belakang, dia melihat Jimin terhuyung ke belakang sambil memegang dadanya. Dadanya itu bersimbah darah, membuat wajah Jimin pucat pasi. Lelaki itu bahkan tidak mempedulikan Namjoon, dia menatap Yoongi, yang masih menodongkan pistol di tangannya, dan ekspresi wajahnya begitu sedih, sedih luar biasa, hingga membuat siapapun yang melihatnya akan merasa seperti diremas jantungnya.

"Kau...menembakku Yoongi? Sayangku?..." Kemudian tubuh Jimin rubuh di lantai tak sadarkan diri. Yoongi masih terpana akan apa yang dilakukannya, matanya nanar menatap tubuh Jimin yang tergeletak tengkurap di lantai. Tiba-tiba saja air matanya mengalir. Kenapa dia menangis? Yoongi mengusap air matanya, bingung. Tadi dia melihat Namjoon hampir di bunuh dan dengan impulsif dia langsung mengambil pistol yang tergeletak di lantai itu dan menembakkannya ke arah Jimin...dia sudah membunuh Jimin?

Namjoon mendengar suara berderap menuju ruang makan itu, para pengawal Jimin sudah berdatangan, mereka pasti tadi diperintahkan untuk menjauh dan menjaga privasi makan malam Jimin dan Yoongi, tetapi sekarang mereka pasti sadar ada yang tidak beres ketika mendengar suara ledakan pistol di udara. Namjoon harus membawa Yoongi pergi dari sini secepat mungkin sebelum para pengawal Jimin datang. Dengan sigap, Namjoon menarik lengan Yoongi yang masih terpaku, dia mengambil pistol di genggaman tangan Yoongi dan kemudian mencekal lengan Yoongi, setengah menyeret perempuan itu.

"Ayo! Kita harus pergi dari sini!"

Yoongi mau tak mau mengikuti langkah Namjoon, kepalanya masih menoleh ke belakang, ke sosok lelaki berpakaian hitam-hitam yang terbaring tertelungkup tak berdaya.

Apakah Jimin mati...?

Angin laut yang dingin menerpa wajah Yoongi, ketika Namjoon menyeretnya sambil berlari kencang. Para pengawal Jimin tentunya sekarang sudah tahu bahwa ada penyusup dan Yoongi melarikan diri. Mereka sedang dikejar!

Namjoon membawa Yoongi melewati semak-semak tinggi di bagian ujung pantai berbatu karang, yang jarang dilewati. Sebelum ke pulau ini, Namjoon telah mempelajari strukturnya dan tahu bahwa bagian di lokasi yang berbatu ini kemungkinan besar akan lepas dari pengawasan karena strukturnya tidak memungkinkan untuk melabuhkan perahu boat. Tetapi Namjoon tidak habis akal, dia menambatkan jangkar kecil untuk boatnya yang ditinggalkannya sedikit ke tengah laut, di sudut yang gelap. Lalu dia berenang menuju pulau naik diam-diam ke daratan dalam kegelapan. Cara itu rupanya berhasil membuatnya sampai ke pulau tanpa ketahuan oleh siapapun bahkan hingga lolos bisa memasuki rumah. Sebenarnya Namjoon sendiri tidak menyangka dia bisa memasuki pulau itu semudah ini. Tetapi entah kenapa, penjagaan di pulau itu cukup sepi, hanya ada satu atau dia orang di depan.

Rupanya lokasi pulau yang cukup terpencil membuat Sang Pembunuh lengah dan mengendorkan penjagaannya. Namjoon menatap ke arah langit yang gelap pekat, dia beruntung karena hari ini tepat saat malam tidak berbulan, sehingga kesempatan Namjoon untuk tidak ketahuan sangat besar. Mereka berdua berdiri di tepi pantai, Namjoon menatap Yoongi dalam-dalam dengan penuh tekad. Perempuan itu menangis, apakah dia menangisi Jimin?

"Tahan napasmu. Kita akan berenang." Sebelum Yoongi sempat menjawab, Namjoon menarik perempuan itu masuk ke air laut, dia berenang di belakang Yoongi, menghela perempuan itu ke arah perahu boat yang sudah menunggu, lalu menaiki perahu boat itu dan mengangkat Yoongi dari lautan naik bersamanya. Namjoon memejamkan matanya dan menghela napas panjang. Dia melirik ke arah pulau, ada cahaya senter begitu banyak yang di pancarkan dari sana. Para pengawal Jimin sedang mencari mereka ke seluruh bagian pulau. Namjoon harus membawa Yoongi pergi dari sini sebelum mereka menyadari keberadaannya dan Yoongi. Namjoon menyalakan mesin perahu boat nya, suara mesinnya tertelan oleh deburan ombak yang kencang. Dia melajukan perahunya memutar arah, menjauhi pulau itu.

Lelaki itu melirik Yoongi yang meringkuk di sudut perahu dan kemudian mengernyitkan keningnya. Dia lalu meraih ponselnya dan menelepon atasannya, "Aku sudah menyelamatkan Yoongi. Dia ada bersamaku sekarang." Gumamnya cepat. Atasannya tampak terkesiap di seberang sana, "Apa? Bagaimana bisa? Kapan? NamjoonKau tidak bergerak sendiri tanpa koordinasi bukan?"

"Itu tidak penting." Namjoon mengeraskan suaranya, berusaha mengalahkan suara deburan ombak dan perahu boat yang memenuhi udara. Dia melirik dengan cemas ke belakang, ada nyala lampu berkelap-kelip yang mendekat di kejauhan. Sepertinya ada beberapa perahu boat yang mengejar mereka, jantungnya berdebar, dia harus cepat dan hati-hati, sekarang Yoongi sudah bersamanya, Namjoon akan berusaha sekuat tenaga supaya mereka tidak bisa mengejarnya, "Aku akan mendarat di pulau Jeju sebentar lagi, siapkan pesawat untuk membawa kami pulang di landasan yang biasa." Tanpa menunggu jawaban atasannya, Namjoon menutup telepon lalu melajukan perahu boatnya sekencang mungkin.

.

.

.

Sulli terlambat datang, dia menyaksikan detik terakhir itu, detik dimana Yoongi yang bodoh itu mengacungkan pistolnya ke arah dada Jimin dan menembaknya. Sulli begitu marah ketika melihat tubuh Jimin rubuh di lantai. Kekasihnya...lelaki pujaannya, dan perempuan bodoh itu menembaknya begitu saja. Ketika para pengawal Jimin datang, Sulli menyembunyikan dirinya di kegelapan, dia tidak boleh ketahuan berada di sini. Tadi dia datang ke pulau ini menumpang perahu salah satu penduduk yang tidak tahu apa-apa dan mengatakan bahwa dia adalah tamu dan kekasih dari Jimin. Penduduk itu biasanya mengambil bahan makanan ke seberang setiap harinya, dan dia percaya akan perkataan Sulli mengingat betapa 'wah' nya penampilan Sulli waktu itu.

Sulli melihat Yochun memeriksa Jimin, wajahnya tampak muram, lelaki tua itu lalu memberi isyarat kepada para pengawal untuk mengangkat tubuh Jimin yang lunglai. Bekas ceceran darah tertinggal di lantai tempat Jimin terbaring, membuat dada Sulli sakit. Dia bahkan tidak bisa menyentuh dan memeluk kekasihnya itu di saat seperti ini. Air mata mengalir di mata Sulli, air mata kemarahan, kesedihan yang bercampur dendam membara. Dia akan menemukan cara untuk keluar dari pulau ini segera, dan dia akan mengejar Yoongi. Yoongi harus menerima pembalasan setimpal karena telah menembak Jimin.

Sulli akan membunuh Yoongi!

.

.

.

"Kau tidak apa-apa?" Namjoon membungkus tubuh basah Yoongi dengan selimut, dia membawa Yoongi ke rumahnya. Tubuh Yoongi masih gemetar dengan tatapan mata kosong, perempuan itu shock. Setelah mendarat di pulau Jeju, Namjoon membawa Yoongi ke landasan milik pemerintah, sebuah tempat rahasia yang digunakan untuk keperluan darurat jika misi mereka mengharuskan mereka melarikan diri dengan cepat. Atasannya ternyata menanggapi dengan cepat laporan Namjoon, karena sebuah pesawat pribadi berlogo pemerintah sudah menunggu mereka di landasan. Namjoon membawa Yoongi menaiki pesawat itu, dan mereka langsung di bawa pulang. Sepanjang perjalanan, atasannya menelepon, meminta Namjoon mempertimbangkan untuk membawa Yoongi ke lokasi perlindungan yang tersedia, tetapi Namjoon bersikeras untuk membawa Yoongi ke rumahnya. Rumahnya adalah tempat yang paling aman karena Namjoon paling mengenal seluk beluk rumahnya, juga setiap titik dalam pengamanannya. Lagipula Namjoon tidak mau menyembunyikan Yoongi.

Kalau memang Jimin mengejar dan ingin mengambil Yoongi, maka mereka harus berhadapan secara jantan. Kalau tidak, dia akan terpaksa membawa Yoongi terus menerus dalam pelarian. Atasannya akhirnya menyetujui kekeras kepalaan Namjoon, dengan berat hati tentunya, dia lalu mengatakan akan mengirim agen-agennya untuk menyusul dan menjaga rumah Namjoon. Mereka menempuh perjalanan kembali ke kota ini dalam kebisuan. Sekarang sudah hampir satu jam sudah berlalu setelah mereka pulang, dan kondisi Yoongi masih tetap seperti itu. Namjoon sendiri telah menghubungi anak buahnya, dan mereka telah menerima instruksi dari atasan langsung Namjoon untuk segera datang ke rumah Namjoon dan melakukan penjagaan ketat. Saat ini mereka semua sedang dalam perjalanan.

Yoongi menatap ke arah Namjoon, berusaha memfokuskan pandangannya, tetapi air mata malahan mengalir deras dari matanya, bibirnya bergetar, "Aku...aku membunuhnya..."

Namjoon menghela napas panjang, memeluk Yoongi dengan lembut, "Kau menyelamatkan nyawaku sayang, terima kasih ya." Tubuh Yoongi lunglai dalam pelukan Namjoon, membiarkan lelaki itu membelai rambutnya. Yoongi sendiri merasa begitu bingung akan perasaan yang berkecamuk di benaknya, masih teringat jelas ekspresi wajah Jimin tadi sebelum dia rubuh ke lantai. Kesedihannya itu, seakan-akan merenggut jiwa Yoongi membuatnya ingin menangis meraung-raung tetapi tidak tahu kenapa. Ponsel Namjoon tiba-tiba berbunyi, Namjoon mengerutkan keningnya dan mengangkatnya, "Sulli." Sapanya ketika mengetahui siapa yang meneleponnya. Namjoon tidak tahu kalau Sulli sekarang sudah sampai di bandara kota ini, dan sedang menunggu taxi untuk menuju ke tempat tinggal Namjoon.

"Namjoon." Sulli membuat suara secemas mungkin, "Aku mendengar dari pak Jung atasanku bahwa Taehyung sedang bergegas ke pulau Cho Kyuhyun, ada tamunya yang tertembak, aku cemas sekali Namjoon, kau kan tahu aku menduga bahwa Yoongi ada di pulau itu.. aku cemas kalau Yoongi yang tertembak." Sulli mengarang dan berakting dengan lancarnya, bagaimanapun juga, itu adalah keahliannya, bahkan supaya lebih meyakinkan, perempuan itu mulai terisak-isak, membuat Namjoon di seberang kehabisan kata-kata. Namjoon mengerutkan keningnya lagi dan berpikir, Sulli setahunya adalah sahabat Yoongi yang paling dekat, dan tentu saja perempuan itu sangat mencemaskan Yoongi. Namjoon tidak tega mendengar perempuan itu menangis terisak-isak, mungkin tidak masalah kalau dia memberitahukan keberadaan Yoongi di rumahnya, dia bisa meredakan kecemasan Sulli dan mungkin kehadiran Sulli bisa menenangkan Yoongi.

"Sulli...aku tidak bisa menjelaskan semuanya secara terperinci...tetapi Yoongi, Yoongi sekarang berada di sini di rumahku, bersamaku."

"Benarkah?" Sulli terpekik, "Biarkan aku bicara dengannya Namjoon, biarkan aku tahu dia baik-baik saja."

"Yoongi sedang tidak bisa bicara." Namjoon melirik ke arah Yoongi yang masih meringkuk dan terisak-isak di sofa, "Mungkin kau bisa ke rumahku saja?" Namjoon memberitahukan alamat rumahnya kepada Sulli.

Gotcha! Sulli menyeringai lebar. Jantungnya berdegup penuh antisipasi ketika taxi nya datang, Sulli memberikan alamat rumah Namjoon kepada supir, dan dia duduk dengan tidak sabar menunggu taxi sampai ke tujuan.

Tunggulah Yoongi, dewi pembalasan akan datang dan membunuhmu!

.

.

Namjoon menuangkan secangkir kopi kental hitam dari mesin pembuat kopinya. Aroma harum langsung menguar ke udara, memenuhi ruangan. Dia melirik ke arah Yoongi, perempuan itu tadi menangis histeris, kondisinya sangat kebingungan sehingga Namjoon berpikir dia harus membawa Yoongi ke psikiater, kejadian tadi mungkin terlalu mengguncang jiwanya. Suara mobil terdengar di depan rumahnya, membuat Namjoon segera mengintip ke luar dengan waspada, dia mendesah ketika melihat Sulli yang turun dari taxi itu. Sebelum Sulli mengetuk pintu, Namjoon sudah membuka pintunya dan menyambut Sulli.

"Di mana Yoongi?" Sulli melongok ke dalam berusaha mencari, Namjoon memiringkan tubuhnya, membiarkan Sulli masuk.

"Di Sofa, dia tertidur setelah menangis lama." Sulli menatap Namjoon dengan bingung, "Sebenarnya apa yang terjadi Namjoon?"

"Aku tidak bisa menjelaskannya kepadamu sekarang." Namjoon bergumam tegas, "Aku hanya berharap kau bisa menghibur Yoongi."

"Tentu saja." Sulli tersenyum, matanya melirik ke arah Yoongi yang tidur meringkuk di sofa, dia mengguncang bahu Yoongi lembut, "Yoongi...?" Sulli berbisik, memanggil nama Yoongi. Tubuh Yoongi terguncang dan dia menolehkan kepalanya, matanya mengerjap, seolah tidak yakin. "Sulli?" bisiknya lemah, mengusap matanya "Ini aku Yoongi, kau baik-baik saja?" Yoongi langsung menangis lagi ketika melihat wajah sahabatnya itu, dia langsung memeluk Sulli.

"Aku membunuh Jimin...aku..." suara Yoongi tenggelam di dalam tangis sementara Sulli memeluknya mencoba menghibur Yoongi yang histeris. Sementara itu Namjoon menatap mereka berdua dan mengangkat bahunya, "Aku akan membuatkan kopi..." gumamnya membalikkan tubuh ke arah dapur.

Baru beberapa langkah, tiba-tiba saja Namjoon tertegun oleh rasa nyeri dan panas yang menembus punggungnya, dia menoleh dan terkejut mendapati Sulli berdiri di belakangnya dengan senyum bengis, tangan Sulli memegang pisau, dan pisau itu sekarang menancap di punggungnya, berlumuran darah. Darahnya!

Namjoon hendak membuka mulutnya ketika pandangan matanya mulai berkunang-kunang, masih di dengarnya suara tawa terkikik Sulli, "Rasakan itu dasar agen bodoh! Berani-beraninya kau menggangu Jimin, kekasihku!"

Jimin adalah kekasih Sulli?

Namjoon mengernyit ketika merasakan kesadarannya makin tenggelam akibat rasa sakit yang amat sangat di punggungnya, dia tersengal, berusaha mencari pegangan tapi terlambat! Tubuhnya rubuh di karpet, penuh darah. Sulli membungkuk dan mencabut pisau itu dari punggung Namjoon, dan mengacung-acungkan pisau yang penuh darah itu kepada Yoongi. Yoongi yang menatap seluruh adegan itu dari sofa memekik kaget, dia terpaku di tempat duduknya, matanya membelalak menatap Sulli yang memegang pisau berlumuran darah, dan kemudian berpaling ke tubuh Namjoon yang sekarang terkulai di karpet.

"Sulli?" Yoongi menatap Sulli dan kemudian baru menyadari perbedaan yang ditemukannya di dalam penampilan Sulli itu. Sulli berpenampilan lebih mencolok dan menggoda...benarkah ini Sulli yang sama? Sulli sendiri menatap Yoongi dan tersenyum keji, "Aku akan membunuhmu Yoongi..."

"Sulli?" Yoongi bergumam gugup, beringsut dari kursinya ketakutan ketika Sharon melangkah semakin mendekat. "Sulli? Ada apa?"

"Ada apa?" Sulli mulai tertawa, "Seharusnya kau sadar Yoongi, bahwa aku tidak pernah benar-benar menjadi temanmu. Aku mau mendekatimu atas perintah Jimin."

Apa? Yoongi berteriak dalam hati, kesadarannya kembali ketika menerima tatapan membunuh dari Sulli. Jadi selama ini Sulli hanya menyamar? Apakah Jimin yang mengirim Sulli kemari untuk membunuhnya?

"Kau perempuan yang tidak tahu terima kasih, Jimin begitu baik, begitu tampan dan dia harus terikat padamu, perempuan lemah yang sama sekali tidak berharga."

"Terikat padaku?" Yoongi sama sekali tidak mengerti maksud perkataan Sulli, apakah Sulli mengira Yoongi mengikat Jimin karena dia adalah satu-satunya korban yang gagal dibunuh oleh Jimin?

"Kau masih tidak ingat ya." Sulli tertawa cekikikan, tawa yang aneh karena matanya bersinar kejam, "Betapa menyedihkannya kau Yoongi, aku berani bertaruh bahwa kau akan menyesal setengah mati kalau kau ingat. Dasar perempuan bodoh, demi membela lelaki yang tak berguna itu kau malahan menembak suamimu sendiri!"

Menembak suaminya? Tetapi Yoongi menembak Jimin...apa maksud Sulli dengan suaminya?

"Ya Perempuan bodoh. Itulah kenapa Jimin tidak bisa melepaskanmu, itulah kenapa Jimin begitu terikat kepadamu. Kau adalah isterinya! Isteri yang tidak tahu terima kasih karena melupakan suaminya begitu saja! Kau tak pantas untuk Jimin, aku akan membunuhmu!" Dengan gerakan cepat, Sulli menyerbu Yoongi, dengan pisau berdarah masih teracung di tangannya. Yoongi melompat menghindar, melompati sofa itu sehingga sofa itu jatuh terguling bersamanya, menimpa kepalanya dalam benturan yang cukup keras. Kepala Yoongi berputar-putar benaknya melayang. Isteri Jimin...? Dia isteri Jimin? Bagaimana bisa? Kenangannya kembali kepada makan malam mereka dahulu, ketika melihat cincin emas yang melingkar di jari Jimin...

"Apakah...apakah kau sudah menikah?" Yoongi akhirnya menyuarakan pertanyaan di benaknya, matanya melirik sekilas lagi ke arah cincin di jemari Jimin. Jimin mengikuti arah pandangan Yoongi ke cincinnya dan tersenyum miris, "Maksudmu cincin ini?" Jimin menatap Yoongi dalam-dalam, "Dulu aku pernah menikah." Dulu aku pernah menikah...

Jadi apakah maksud Jimin, dia menikahdengan Yoongi? Tetapi kapan? Bagaimana bisa? Kenapa Yoongisama sekali tidak mengingatnya? Tiba-tiba Yoongi merasa cairan panas mengalir dari dahinya ke matanya, dia mengambil cairan itu dengan jemarinya dan menatapnya. Cairan itu berwarna merah, itu darah... kepalanya berdarah! Menyadari itu Yoongi merasa pandangannya mulai berkunang-kunang, kesadarannya semakin lama semakin hilang...

Sementara itu Sulli berdiri dengan napas terengah, menatap Yoongi yang terkulai dengan sebagian tubuh tertindih sofa yang terbalik, Ini adalah pembunuhan yang mudah. Seharusnya Sulli melakukannya dari dulu, mengusir pengganggu ini, melenyapkan Yoongi dari muka bumi ini, Selamanya!

Tangannya teracung mengambil ancang-ancang untuk menancapkan pisaunya sedalam mungkin ke punggung Yoongi yang tak berdaya...

Lalu suara tembakan itu terdengar, langsung menembus punggung Sulli tepat masuk ke jantungnya, hingga tubuh perempuan itu tersentak, dia menoleh ke belakang dan membelalakkan matanya kaget, tidak menyangka bahwa dirinya akan tertembak. Seokjin berdiri di sana, dengan beberapa agen. Dialah yang menembak Sulli.

"Seok..." Sulli mengenai Seokjin sebagai salah satu anak buah Jimin yang disusupkan ke kantor pemerintah tempat Namjoon berada, dia hendak menyebut nama Seokjin, tetapi lidahnya kelu, sekujur tubuhnya kaku dan mati rasa, kesadarannya makin lama makin hilang.

"Semua sudah selesai, Sulli." Seokjin bergumam, menatap dingin tubuh Sulli yang langsung tumbang dan kehilangan nyawa. Beberapa agen langsung memeriksa Sulli, memastikan bahwa dia benar-benar mati. Sementara itu Seokjin langsung berlari ke arah Namjoon yang terkulai bersimbah darah di karpet, dia memeriksa nadinya dan memejamkan matanya penuh syukur, Namjoon masih hidup. Syukurlah...untunglah Seokjin datang tepat waktu. Yochun meneleponnya tadi, menginformasikan bahwa Yoongi dibawa kabur, Jimin tertembak, dan para pengawal kehilangan jejak di pulau Jeju. Beberapa saat setelahnya, atasannya menelepon meminta mereka semua bersiap ke rumah Namjoon untuk melakukan penjagaan karena Namjoon sudah mendapatkan Yoongi.

Seokjin langsung menghubungi Yochun untuk melaporkan perkembangan terbaru itu, lalu dia bergerak dengan beberapa agen, mendatangi rumah Namjoon untuk melaksanakan tugas, meskipun dia membawa misi pribadinya, Yoongi tidak boleh bersama Namjoon, demi kebaikannya, Yoongi harus kembali kepada Jimin. Sayangnya Seokjin melupakan Sulli, wanita psyco yang sudah menjadi rahasia umum begitu tergila-gila kepada Jimin. Seokjin tidak menyangka Sulli akan senekat itu mengejar Yoongi, dan melukai Namjoon. Seokjin menatap ke arah Namjoon. Darah Namjoon sangat banyak, nyawa Namjoon masih terancam karena dia kehilangan banyak darah. Seokjin memandang paramedis yang menyusul di belakangnya dan memandang dengan cemas ketika mereka memeriksa Namjoon, kemudian mengangkut tubuh Namjoon untuk dibawa ke ambulans.

Seokjin menolehkan kepalanya menatap Yoongi yang juga pingsan dan sedang diperiksa oleh paramedis. Dia menghela napas panjang. Yoongi harus baik-baik saja, karena dia adalah isteri dari tuan Jimin, tuan besarnya.

.

.

.

Jimin yang baru saja sadarkan diri, duduk di atas ranjang putih itu, menatap tajam ke arah Yochun yang sedang menerima telepon dari Seokjin. Yochun tampak bercakap-cakap dengan serius, kemudian dia menutup teleponnya dan menatap majikannya, "Semuanya beres."

Jimin memejamkan matanya, merasakan kelegaan yang amat sangat membanjiri tubuhnya.

Semalaman dia tidak sadarkan diri karena pistol yang menembus dadanya. Peluru itu hanya beberapa inci dari bagian vital tubuhnya, meleset sedikit saja dan mungkin Jimin tidak akan bisa diselamatkan, sekarang peluru itu sudah dikeluarkan.

Yoongi menembaknya untuk menyelamatkan Namjoon.

Jantung Jimin terasa berdenyut rasa sedih bercampur cemburu menggelegak dalam jiwanya. Yoongi...isterinya yang telah melupakannya sejak kecelakaan itu.

Tidakkah dia tahu betapa Jimin mencintainya? Betapa Jimin rela melakukan segalanya demi perempuan itu?

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Yang ngira Yoongi istrinya Jimin siapa hayo? Woah Daebak kalian bener loh /tebar kolor Jimin/ xD

Kalian biasa nafas lega, Jimin gak apa-apa kok. Jimin kan kuat, jadi gak akan mati, lagian kalo Jimin mati nanti Yoongi jadi Janda dongs? Haha

di cerita aslinya aku sebel banget sebenernya ama karakter Namjoon, padahal dia tau yang sebenernya tapi nekat ngejar Yoongi dan misahin dari Jimin. semakin lama yang Namjoon lakuin itu bukan karna Cinta, tapi ambisi. /Ceileh gue/ xD

Sulli mati yesss, Haha

Btw, Saengil Chukka Hamnida Uri Oppa Dalnim, Lee Hyukjae. Stay Healthy and comeback safely~ Saranghae :*

Dan buat adik-adik yang lagi Ujian Nasional, Semangat yaa, kalian pasti bisa! dan semoga bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi... :)

See you in next chap~ Don't forget review nya hehe

Gomawo…

Paipai

Dyah Cho